<div style='background-color: none transparent;'><a href='http://news.rsspump.com/' title='rsspump'>news</a></div>
Subscribe For Free Updates!

We'll not spam mate! We promise.

Sistem Pilkadal Lahirkan Pemimpin Amburadul??


Dewan Pembina Lembaga Sosial Masyarakat Indonesia Corruption Watch (ICW) Teten Masduki menilai masyarakat saat ini telah jenuh terhadap pelaksanaan pemilu kada. 

"Kejenuhan itu nampak dari minimnya partisipasi pemilih dalam rangkaian pemilihan kepala daerah di berbagai tempat belakangan ini," ujar Teten. 

Menurut dia, angka golput pada Pemilihan Gubernur Jabar 2008 mencapai 35 persen dari total pemilih. 

"Di beberapa daerah yang baru melakukan pemilihan kepala daerah pun sama, bahkan jumlahnya semakin tinggi. Misalnya di Kota Bekasi yang ikut memilih hanya 48 persen dari DPT. Itu membahayakan demokrasi di Indonesia," katanya. 

Pawang Hujan Solusi Atasi Banjir Hemat APBD

Persoalan banjir yang menerpa Jakarta seolah belum ditemukan jalan keluarnya. Sekalipun ada, hal itu tetap saja tidak mencegah sejumlah wilayah di DKI Jakarta terendam banjir. Sejumlah pakar & praktisi ahli banjir tak berdaya. Dana milyaran sampai trilyunan digelontorkan, tapi banjir tak kunjung beres.

Solusi alternatif soal banjir yaitu optimalisasi peran para pawang hujan untuk mengantisipasi agar hujan tidak turun terus menerus. "ini solusi cerdas, ramah lingkungan dan bersahabat dengan alam", ujar pakar cuaca & geofisika Kampus Menyan Indonesia.
.
Pakar Meteorologi Paulus Agus Wianarso menguraikan seiring pertumbuhan badai tropis kawasan belahan bumi utara, Teluk Benggala,Samudera Pasifik Utara hingga Wilayah Indonesia akan terjadi tarikan uap air.

Integritas Tokoh Masyarakat Sipil


Sarkubman Tokoh Aswaja
Yang saya maksud dengan tokoh masyarakat sipil di sini adalah mereka yang dibesarkan di lingkungan masyarakat sipil: organisasi berbasis massa, seperti NU dan Muhammadiyah, atau organisasi berbasis kerja atau isu, seperti organisasi profesi, LSM dan kampus. Bukan tokoh yang dibesarkan birokrasi dan militer.

Partai politik dan komunitas bisnis juga melahirkan pemimpin sipil. Tetapi dalam analisis sosiologi-politik, mereka dibedakan dari pemimpin yang dihasilkan masyarakat sipil. Orientasi elit politik dan bisnis jelas, kekuasaan dan keuntungan; sedangkan orientasi pemimpin masyarakat sipil adalah kemaslahatan umat.

Oleh karena itu, dalam negara demokrasi, masyarakat sipil sering jadi penyeimbang sekaligus kontrol sepak terjang entitas politik dan bisnis. Sebab, dua yang terakhir ini cenderung memanfaatkan sumber daya negara untuk kepentingan sendiri. Padahal tujuan negara adalah melindungi dan menyejahterakan rakyat.

Dilema PKS, Kepentingan Suara Kalahkan Syariat


Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengalami transformasi cepat dalam beradaptasi dengan iklim demokrasi di Indonesia. Partai yang awalnya bernama Partai Keadilan tersebut membuat keputusan kontroversial dengan menyatakan diri sebagai partai terbuka di Musyawarah Nasional di Bali pada tahun 2008. Kontroversi yang dihasilkan bukan saja didapat dari publik, tetapi juga dari internal partai atau jamaah mereka sendiri. 

Partai yang ditengarai sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir ini mendapatkan resistensi luar biasa dari internalnya, karena perubahan dari partai Islam menjadi partai terbuka dianggap menyalahi niat awal dakwah yakni memperjuangkan negara Islam. Publik di luar partai pun tidak langsung percaya dengan perubahan ini, bahkan banyak yang curiga bahwa ada agenda-agenda tertentu dibaliknya. Untuk membahas hal ini, Jaringan Islam Liberal (JIL) mengadakan diskusi buku “Dilema PKS: Antara Suara dan Syariah” yang secara khusus diangkat dari penelitian penulisnya sendiri Burhanuddin Muhtadi. Dalam diskusi tersebut, penulis disandingkan dengan Ulil Absar Abdalla dari JIL.

Rame-Rame Tinggalkan & Tanggalkan Identitas Partai Islam


Selama ini Partai Amanat Nasional (PAN) dikenal sebagai partai yang lahir dari rahim Ormas Islam Muhammadiyah. Karenanya partai ini dikenal sebagai partai Islam. Belakangan para tokoh partai ini mulai sadar bahwa pemosisian politik sebagai partai islam adalah tidak tepat.

Awal 2013 ini ditandai penegasan kembali bahwa PAN telah menanggalkan identitas partai islam. Kini, PAN adalah partai terbuka, sama dengan Golkar, PDIP, Demokrat, Nasdem, Gerindra, dan Hanura. Tidak tanggung-tanggung, pencanangan partai terbuka tersebut dilakukan PAN bersamaan perayaan Natal 2012 di Jayapura.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebelumnya telah pula membuka diri menjadi partai terbuka pada Kongres Bali 2008 lalu. Kini PKS menjadi partai baru yang terbuka dimasuki oleh kader non-islam. Sama dengan PAN dan partai-partai nasionalis religius lainnya.